Laporan silahturahmi mudiik 2011. Mudik tahun ini memang sangat berbeda dari tahun tahun sebelumnya, bukan karena lebarannya yang berbeda tetapi perjalanan silahturahmi ke rumah sanak saudara yang berada di ujung pulau jawa. Jember, meskipun belum sampai ujung tapi gw menyebutnya ujung, hahaha. Jember masih bagian dari jawa timur, terletak antara gunung argopuro dan semeru jember memilik suhu 23oC - 32oC dengan ketinggian antara 0 - 3.330 mdpl jember memiliki iklim tropis.
Perjalanan dimulai dari Caruban Kab. Madiun, gw menunggu bis melalui halte bis desa buduran dekat lampu merah sebelum masuk ring road caruban, jam di tangan menunjukkan pukul 06.30 tetapi bis tujuan jember belum ada yang lewat, kurang lebih selama 20 menit kemudian bis pertama AKAS ASRI tujuan akhir Ambulu baru datang. Lama menunggu ternyata membuat hati miris, karena belum sampai naik gw sedikit malas untuk menaikinya bukan karena bisnya jelek atau apa tapi karena keadaan penumpang yang ada di dalam bis itu sudah penuh sesak. Apa boleh buat, gw coba saja menaikkinya mungkin nanti di Jombang atau Mojokerto ada yang turun, ternyata tidak, ketika bertanya dengan beberapa penumpang mereka banyak yang baru akan turun di Lumajang, Probolinggo, dan Ambulu, tidak ada pilihan lain gw harus turun itulah yang ada dalam pikiran gw, sebelum bis masuk terminal Caruban gw memilih turun di halte desa Mejayan masih di Kab.Madiun.
Berpikir apakah menaiki bis langsung atau Oper surabaya. Penamatan sebentar bis yang dari tujuan Yogyakarta dan Solo sangat penuh sesak keputusan ini langsung keluar untuk menaiki bis Ponorogo yang tujuan surabaya,karena dua kali bis ponorogo lewat selalu kosong. Tak lama RESTU ekonomi datang, "ekonomi gak apa apa dah yg enting nyampe sana gk kesorean, berdiri juga gak apa apa", itu semboyan gw. bertanya kepada beberapa penumppang ternyata gk terlalu jauh, sampai nganjuk sudah ada yang turun.
Masuk kota nganjuk saya mendekati tempat duduk penumpang yang akan turun, istilahnya "TEKEN DULUAN". Tibalah di terminal nganjuk memasuki peron kedatangan penumpang tersebut turun saya langsung bergegas duduk ditempat yang sudah saya teken tadi. Menikmati tempat duduk saya tertidur pulas sampai ring road mojokerto.
Tiba di terminal bungur asih saya ISOMA lalu bergegas mencari bis tujuan Jember. Saya piih lagi BUMEL karea yang ada memang BUMEL. Pikiran jelek pun tersirat karena bis sudah terlihat penuh dan kondisi bis juga yang rada tua. Dan saya hampir tidak mendapatkan tempat duduk. "KURSI PANAS" memang benar benar panas karena saya duduk di depan sebelah pramudi tetapi diatas mesin karena bis itu menggunakan mesin depan.
Saya sangat menikmati perjalanan sembari melihat pemandangan mulai dari tanggullumpur sidoarjo yang tinggi hingga hamparan sawah Jember yang terkenal akan irigasinya yang baik.
Matahari telah turun dari peraduan saya baru sampai di Jmeber tepatnya di kecamatan Balung Lor, sebelah selatan kota jember. Total perjalanan kurang lebih 12,5 jam. Bila dihitung hitung itu sama saja Jakarta-Semarang.
Balik lagi ke madiun saya beruntung karena mendapatkan tempat duduk. Banyak penumpang yang tidak dapat tempat duduk.
Saya bertanya kepada penumapang "Apakah keadaan seperti ini cuma lebaran saja??" dan mereka menjawab "tidak, setiap harinya hampir seperti ini. hanya saja jika lebaran jumlah bis di tambah dari 4 menjadi 6." Berarti bis ini jika hari biasa 2 dari barat 2 dari timur, dan jika pada hari lebara 3 dari barat 3 dari timur. Sedangkan potensi penumpang sangat besar terbukti setiap harinya bis selalu penuh dari pemberangkatan samapi tujuan, belum lagi banyaknya penumpang yang naik dari tiap pemberhentian karena tipe kelas bis ini PATAS ATB sehingga bis ini banyak berhenti di pemberhentian. Sepanjang perjalanan saya berpikir ini trayek yang lumyan panjang kenapa disediakan bis yang sedikit??? Ini adalah potensi jika ada perusahaan yang berani membuka trayek Ponorogo-Ambulu dengan jumlah bis dan jumlah perjalanan yag banyak. Otomatis perusahaan yang terlebih dahulu buka trayek ini akan meningkatan pelayan dan diharapkan timbul persaingan yang sehat, karena persaingan itu kualitas pelayanan bisa meningkat.
Nah,itulah cerita sekaligus report dari apa yang saya rasakan. Banyak banyak perjalan banyak menulis sehingga membuka batas batas anatar ruang dan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar